Pustaka

Kautsar Azhari Noer

Tasawuf Perenial
Kearifan Kritis Kaum Sufi
oleh Kautsar Azhari Noer terbitan Serambi

Karya ini memberikan gambaran lebih luas tentang ajaran tasawuf, karena tasawuf mengajarkan penerimaan keimanan dengan perdamaian. Pengajaran tasawuf meninggalkan klaim kebenaran, dengan melampaui kerangkeng pemahaman Tuhan menuju kearah upaya mencintai Tuhan dari hanya sekedar memahami Tuhan.

Buku ini mengingatkan kita kembali pada terminologi Tuhan Yang Diciptakan (al-Haqq al-ladzi fi al-mu-‘taqad) dan Tuhan Yang Sebenarnya (al-Haqq al-makhluq fi al-i’tiqad). Tuhan yang diciptakan adalah Tuhan kepercayaan yang merupakan pemikiran, konsep, ide, atau gagasan tentang Tuhan yang diciptakan oleh akal manusia. Tuhan seperti itu bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya, Zat-Nya, melainkan gambar atau bentuk Tuhan yang diciptakan oleh manusia sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, penangkapan, dan persepsi manusia itu sendiri.

Karena indra dan intelek manusia tidak mampu mencapai Tuhan, indra dan intelek harus “dikosongkan” dari semua makhluk dan disucikan supaya Tuhan dapat menuangkan cahaya-Nya ke dalam indra dan intelek itu.

Beberapa kutipan dari buku ini yang perlu direnungkan :

Tasawuf yang ideal adalah tasawuf mistis. Tasawuf sebagai jalan spiritual menuju Allah, yang bersumber dari al-Qurran dan Sunah, berintikan akhlak mulia, mendekatkan manusia pada Allah, tetap setia pada syariat, menekankan keseimbangan antara aspek-aspek lahiriah dan bathiniah dan ukhrawi, berpihak kepada orang-orang lemah dan tertindas.

Tasawuf didasari oleh hikmah:

Kearifan (wisdom, hikmah) tidak dimiliki hanya oleh satu agama atau ras tertentu, tetapi oleh semua agama dan ras, siapa pun yang memperoleh kearifan adalah seorang sufi karena tasawuf sendiri berarti kearifan.

Tauladan sang sufi adalah keramahan dan keterbukaan:

Sikap toleransi, simpati, keterbukaan, dan keramahan para sufi terhadap agama-agama lain didorong oleh keyakinan mereka bahwa agama mereka pribadi (Islam) cukup luas dan cukup dalam. Sikap seperti ini tidak merusak iman mereka; tidak pula bukti ketidakkonsistenan dan kegoyangan iman mereka. Sebaliknya sikap ini menunjukkan kekokohan sejati iman mereka. Kekokohan sejati iman para sufi justru terbukti ketika berani memasuki jantung agama-agama lain.

Jalan Sufi adalah untuk mencapai tingkatan Manusia Sempurna.

Manusia sempurna adalah manusia yang ‘merendah” dalam arti tunduk, patuh, dan pasrah kepada Tuhan; ia mengaktualisasikan ubudiyyah-nya. Pada saat yang sama, Manusia Sempurna itu adalah manusia yang meninggi dalam arti derajatnya tinggi dan mulia karena ia memantulkan semua nama dan sifat Tuhan secara sempurna dan seimbang; ia mengaktualisasikan khilafahnya. Semakin merendah manusia dihadapan Tuhan, semakin tinggi derajatnya.

Manusia Sempurna berakhlak mulia mencintai sesama:

Cinta vertikal antara sang hamba dan Tuhannya tidak akan terwujud jika tidak disertai dengan cinta horizontal antara sang hamba dan sesamanya. Nabi bersabda, “Kasihanilah siapa yang dibumi, niscaya engkau akan dikasihi oleh siapa yang di langit”.

Selamat membaca dan merenungkan kearifan sufi. Semoga kekerasan atas nama agama jauh dari kita semua. Perkenankanlah ya…. Tuhan dari mereka yang tunduk, patuh dan pasrah dalam keimanan.

Salam
Harto Ginting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s