Bencana dalam Perspektif Iman

Bencana dalam Perspektif Iman

Ahmad Suharto

Jakarta dilanda banjir kembali di awal tahun 2007, apa upaya kita dalam menghadapi fenomena alam ini?. Pendekatan rasional akan sampai pada jawaban pasti bahwa telah terjadi kerusakan ekosistem pada alam. Jalan keluar menghadapi masalah ini adalah keharusan negara membuat kebijakan yang melindungi dan menjaga kelestarian alam sehingga keseimbangan alam terus terjaga. Kebijakan birokrasi yang berpihak pada alam tidak bisa efektif apabila tidak didukung oleh perilaku manusia yang juga berpihak pada alam.

Fenomena banjir adalah efek samping dari proses pencarian keseimbangan oleh alam. Tergangunya keseimbangan alam merupakan hasil kerja dari tangan-tangan manusia yang lupa pada kewajiban untuk menjaganya. Kerusakan alam merupakan cerminan tidak seimbangnya perilaku manusia sehingga cenderung berbuat kerusakan. Untuk mengatasi permasalahan di atas diperlukan pencerahan sehingga kecenderungan manusia menciptakan kerusakan teratasi. Pencerahan yang diberikan akan memberikan harapan tumbuhnya kesadaran menjaga alam. Pendekatan religius merupakan jalan manusia untuk sampai pada pencerahan yang mampu menjaga keseimbangan alam yang memberi manfaat pada kemanusiaan.

Pendekatan rasional yang menyeluruh tentang alam akan sampai pada dimensi religius manusia. Kesadaran religius yang utuh akan memberikan pemahaman menyeluruh dan memberikan jalan keluar menghadapi bencana. Al Quran mengajarkan bahwa umat manusia akan dicoba dengan keburukan dan kebaikan (QS 21:35). Bencana dalam sudut pandang teologis berbicara mengenai kekuasaan Allah terhadap umat manusia. Bencana dalam perspektif kekuasaan Allah adalah untuk memberikan peringatan, ujian dan azab untuk mencapai hakekat kesucian dan kesempurnaan. Al Quran banyak bertutur tentang bencana dan apa yang harus dilakukan ketika hal tersebut terjadi. Al Baqarah ayat 155-156 menyampaikan “…dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.”

Ayat diatas menegaskan tentang cobaan dalam bentuk ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan kepada manusia. Pada bagian berikutnya disampaikan berita gembira untuk orang-orang yang sabar. Siapakah orang-orang yang sabar itu? Mereka adalah orang-orang apabila tertimpa musibah menyampaikan kalimat “Segala sesuatu yang datang dari Allah akan kembali kepada Allah juga”. Cobaan dalam bentuk bencana adalah bagian dari proses pemurnian mencapai kesempurnan manusia. Jalan kesucian untuk mencapai surga bagi manusia harus melalui berbagai macam cobaan (QS 2:124). Cobaan-cobaan yang datang akan selalu diikuti oleh pertolongan Allah. Allah akan memelihara manusia dari kesusahan dan memberikan kejernihan dan kegembiraan hati (QS 76:11). Doa-doa dari orang yang dalam kesulitan akan menghilangkan kesusahan dan Allah mengangkat manusia sebagai khalifah dimuka bumi (QS 27: 62).

Bencana seringkali merupakan sebuah sinyal untuk mengingatkan manusia untuk tetap mengingat jalan kesalehan yang harus ditegakkan. Kesenangan yang dinikmati adalah untuk masa tertentu saja dan terbatas tidak selama-lamnya (QS 21:111). Pada dasarnya kebahagian atau kesenangan adalah merupakan cobaan juga, Al Quran menegaskan harta dan anak-anak itu hanyalah sebagai satu cobaan bagi manusia ( QS 8:28). Apabila manusia melupakan peringatan yang diberikan akan datang cobaan dalam bentuk kesenangan dan berubah tiba-tiba menjadi kesengsaraan (QS 6:44). Yang dapat selamat dari semua itu adalah orang-orang yang sabar dan tidak berputus asa.

Ketika bencana datang dan kemudian kegembiraan datang manusia lupa untuk tetap menjalankan hidup dengan takwa. Manusia lupa akan Penciptanya dan bangga terhadap ilmu yang dimilikinya (QS 39:49). Bencana dan kegembiraan datang silih berganti yang merupakan cobaan pada manusia untuk tetap kukuh dan sabar terhadap komitmen akan hidup yang suci. Allah memberikan janji pada mereka yang tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan dan menjadi pelindung mereka (QS 16:110).

Bencana juga merupakan hukuman atau azab bagi manusia. Manusia suka lupa dan melampui batas sehingga dicoba dengan azab (QS 36:39). Azab dan cobaan adalah karena perbuatan manusia itu sendiri. Introspeksi dan menilai kembali adalah jalan keluar dalam menghadapi cobaan. Ingkar dan tetap melakukan kesalahan akan membawa pada azab atau cobaan yang lebih berat (QS 72:17). Semoga bencana tidak menjadi tradisi pada bangsa ini. Wallahu Alam bi al-Shawab.

Semoga bermanfaat
Ahmad Suharto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s