Membangun Kembali Peradaban Islam

Membangun Kembali Peradaban Islam

Oleh : Ahmad Suharto

Sore hari ini terasa hening dan damai, cahaya matahari mulai meredup. Bait-bait puisi dari majalah yang sedang saya nikmati mengiringi terbenamnya mentari mengugah dan merangsang perenungan mengenai peradaban Islam. Puisi tersebut mengeluhkan peradaban Islam yang terseok-seok bagai kota tua yang telah sepi. Penduduknya berkeluh kesah dengan keluhan panjang tanpa ujung. Mereka membayangkan dan mengagungkan kejayaan masa lalu yang telah lampau. Impian tersebut sangat mendalam dan semakin jauh dalam khayalan sehingga terasa sulit untuk disentuh. Peradaban Islam adalah topik yang ramai dan riuh rendah dibicarakan orang saat ini. Di mana-mana semboyan kebangkitan dan keagungan peradaban Islam diusung. Tetapi, hati kecil semua orang tidak dapat berbohong karena kita semua masih saja dan tetap merasakan getar sekarat dari peradaban yang telah menjadi tua dan renta itu.

Dr. Mulyadhi Kartanegara menggagas teori tiga faktor pendorong berkembangnya ilmu yang dapat menjadi faktor pemicu kebangkitan peradaban Islam didalam bukunya “Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam”. Ilmu di dalam Islam berkembang karena adanya dorongan agama, apresasi masyarakat dan dukungan penguasa. Figur yang sangat menonjol dalam pengembangan tradisi ilmiah didalam Islam adalah Ibn Rushd. Ia menguasai ilmu pada usia yang masih sangat muda 18 tahun. Ibn Rushd adalah seorang filsuf dan juga seorang dokter yang mengembangkan ilmu dengan semangat mencari kebenaran yang seutuhnya (to seek the truth).

Peradaban Islam memberikan catatan keberhasilan yang mengagumkan bagi umat Islam dan juga peradaban manusia. Islam melahirkan khalifah besar seperti Umar Bin Khatab, Umar bin Abdul Aziz, Harun Al Rasyid dan Al Ma’mun. Kesalehan dua Khalifah dengan nama Umar adalah sangat mengagumkan dan pemerintahan mereka menjamin terwujudnya keadilan. Harun Al Rasyid dan anaknya Al Ma’mun memberikan ruang untuk berkembangnya ilmu sehingga tradisi ilmiah berkembang dengan baik dan meninggalkan catatan keilmuan yang sangat mengagumkan.

Harun Al Rasyid membuka ruang berkembangnya ilmu dalam peradaban islam. Dia dianggap sebagai khalifah yang paling cakap dari dinasti Abbassiyah dan mencintai ilmu pengetahuan. Pemerintahan Haru Al Rasyid mencatat peristiwa besar dan agungan dalam sejarah Islam. Penulis cerita pada masanya menceritakan beliau sebagai tokoh yang besar dan dikagumi. Cerita “Seribu Satu Malam” yang sangat popular dalam tradisi Islam sering mengambil beliau sebagai tokoh utama cerita.

Pembangunan Rumah Sakit dan Observatorium yang berfungsi sekaligus sebagai pusat ilmu kedokteran dan astronomi dibangun oleh Harun Al Rasyid. Al Ma’mun lebih tertarik pada ilmu budaya dan filsafat dan memberikan ilham untuk membangun Bayt al-Hikmah sebagai pusat kegiatan ilmiah pada masa itu.

Tradisi ilmiah Islam dibangun diatas fondasi yang kuat dan memberi ruang yang luas bagi tumbuh kembangnya ilmu. Pencarian kebenaran yang didedikasikan kepada kemanusian adalah tuntutan keimanan Islam. Islam mengajarkan keutamaan orang orang yang berilmu seperti didalam Al Quran “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat” (QS 58:11). Tradisi ilmiah memberikan dasar perdaban Islam yang mashur dan agung. Para ilmuwan percaya pengembangan ilmu memberikan ruang bagi berkembangnya peradaban yang besar dan mencatat prestasi keilmuan bagi kemanusiaan. Ajaraan Al Quran mensyaratkan keselarasan antara iman dan ilmu untuk mendapatkan derajat kemanusiaan yang tinggi.

Penurunan pengaruh tradisi ilmu di dalam Islam dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktornya dalah tercabutnya iman dari ilmu sehingga menghasilkan perdaban yang jauh dari rahmat dan kemudian Islam yang rahmatan lil alamin tidak tercapai. Fazlur Rahman merasakan kemunduran ilmu sebagai instrument pencarian kebenaran dikarenakan pada abad pertegahan naskah-naskah teologi, filsafat dan yurisprudensi tidak lagi diajarkan di pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi lebih asyik dengan kajian tentang komentar dan superkomentar naskah-naskah yang telah ada. Kegiatan ilmiah dalam Islam terfokus pada metode jadal atau perselisihan pendapat untuk mendapatkan kebenaran. Kegiatan intelektual terjebak dalam perselisihan dan melupakan upaya intelektual asli seperti tajrabi, burhani, irfani dan bayani.

Cita-cita Islam yang paling mendasar adalah kehidupan manusia yang di dasari oleh rasa penyerahan diri yang tulus kepada Allah. Setiap perbuatan Yang Islami semestinya mencerminkan niat yang tulus dan mencari ridha Allah dengan i’tikad yang baik dalam pelaksanaan amal perbuatan yang tepat (rahmatan lil alamin). Karena manusia adalah pengemban amanah dan sebagai wakil Allah dimuka bumi (khalifatullah fi al-ardi).

Islam memberikan tuntutan mengerjakan amal perbuatan dengan tulus dan didasari oleh ihsan dan itqan. Ihsan adalah tekad dalam melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya dan tidak setengah hati guna mencapai tujuan. Itqan adalah melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya dan Islam menuntut pemeluknya untuk meniru dan sejalan dengan sifat-sifat Allah (Asma al-Husna).

Membangun masyarakat Islam memberikan ruang terciptanya masyarakat yang adil dan mendukung terciptanya masyarakat yang dengan keimanan yang mengarah pada kebajikan sosial. Perdaban yang maju dan beradab adalah peradaban yang mempunyai etos kebajikan sosial yang tinggi. Kebajikan sosial atau dalam kata lain ibadah sosial merupakan syarat utama terciptanya masyarakat yang rahmatan lil alamin. Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang bekerja keras dalam membina masyarakat dengan semangat menjadikan terwujudnya masyarakat yang saleh dan menjunjung tinggi kebajikan.

Tradisi pemerintahan Khalifah yang dirintis oleh Umar tidak bertahan dan hanya dapat dilakukan oleh pribadi-pribadi tertentu saja karena tidak membangun sebuah sistem yang terjaga untuk pribadi mana saja. Keberhasilan yang disebabkan faktor kemampuan dan kekuatan pribadi khalifah bukan karena sistem yang teruji. Khalifah Al Ma’mun membangun peradaban Islam dengan semangat pencarian kebenaran ilmu tanpa memperdulikan taggung jawab ilmu terhadap kebajikan sosial.. Tradisi kelimuan pada masa itu menghasilkan peristiwa yang sangat menyedihkan. Ilmu yang terlepas dari iman menghasilkan peradaban yang penuh dengan tragedi kemanusiaan. Khalifah melakukan mihnah (pemeriksaan paham pribadi) dan mengakibatkan banyak orang harus masuk penjara. Penyiksaan dan pembunuhan pada masa itu terjadi adalah akibat dari perselisihan pendapat.

Peradaban Islam harus melakukan rekonstruksi yang menyeluruh dan tidak hanya memperhatikan faktor tertentu saja. Rekonstruksi yang benar akan memberikan ruang yang menjamin terciptanya masyarakat ilmiah yang didasari oleh sikjap ihsan dan itqan dalam mewujudkan masyarakat yang rahmatan lil alamin. Rekonstruksi peradaban harus menjamin terwujudnya: masyarakat yang berdasarkan iman yang benar, manifestasi keimanan masyarakat ditunjukkan dengan kebajikan sosial, masyarakat yang saling menjaga dan mengingatkan tentang kebenaran dan masyarakat yang paham tentang kesadaran waktu dan proses untuk mewujudkan satu tujuan. Semoga batin kita semua terlepas dari getar sekaratnya peradaban Islam. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Ahmad Suharto
Mahasiswa S2 Islamic Philosophy ICAS-Paramadina Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s