Ilmu Kalam dalam Islam

Posted on June 30, 2008. Filed under: Uncategorized |

Ilmu Kalam dalam Islam

Ahmad Suharto

A. Latar Belakang

Ilmu Kalam adalah ilmu yang pokok bahasannya adalah seputar Allah dan Rasul.1 Arti Kalam sendiri secara etimology adalah perkataan, pembicaraan, atau kata-kata2 contohnya yatakallam fi yang berarti membicarakan atau mendiskusikan suatu masalah atau topik. Kalam sering juga disamakan dengan teology dalam Bahasa Inggris. Al Syahrastani dalam bukunya Al Milal wa Al Nihal memberikan istilah ushul untuk pembicaraan tentang persoalan keesaan Allah. Ushul adalah ilmu yang membahas pengetahuan tentang Allah dalam ke-esaan-Nya, dan pengetahuan tentang para nabi beserta tanda dan bukti kenabiannya.3

Muhammad Abduh menggunakan istilah ilmu tauhid untuk pembahasan mengenai wujud Allah, sifat-sfat yang wajib ditiadakan dari-Nya juga membahas tentang Rasul untuk membuktikan kebenaran kerasulan, apa yang wajib pada mereka apa yang boleh dan tidak dinisbatkan pada mereka.4 Ilmu Tauhid dalam pandangan Al-Baqilani adalah ilmu yang mengajarkan perbedaan antara yang qadim dengan muhdats. Allah adalah yang qadim dan azali dan wujud-Nya tidak mempunyai permulaan, selama-lamanya tidak berakhir dan tidak ada yang menyerupai Allah. Muhdats adalah sesuatu yang membutuhkan pencipta untuk menciptakan-Nya.5

Penggunaan istilah Kalam untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan Tauhid dan Ushuludin didasari oleh berbagai alasan. Taftazani mengemukakan alasan pemakaian istilah kalam sebagai berikut:

  1. Secara tradisional, sebutan yang diberikan kepada pembahasan-pembahasan tentang masalah yang terpisah adalah al-kalam fi kadza wa kadza (sesuatu penjelasan tentang sebuah bab atau pasal mengenai sesuatu).

  2. Persoalan kalam Allah (perkataan/firman Allah) adalah persoalan yang paling terkenal dan persoalan yang paling banyak menimbulkan perselisihan.

  3. Ilmu Kalam yang dimiliki seseorang dapat membangkitkan kekuatan untuk berbicara tentang, atau membahas masalah dan memenangkan argumen atas argumen lawannya.6

Istilah kalam berkaitan dengan alasan pertama,digunakan dalam karya Al Asy’ari dalam kitab Al-Ibanah dan juga oleh Abd Al Jabbar dalam kitab Al-Mughni. Istilah kalam juga dikenal luas dalam perbincangan tentang Kalam Allah di dalam diskusi tentang Al Q’uran, yang membahas apakah Al Qu’ran itu makhluk atau bukan seperti pada alasan kedua. Pada alasan ketiga kalam menunjukkan tahapan ketika logika dan filsafat yang cukup dikenal berpengaruh dikalangan Islam pada abad 2H/8M. Kalam berarti pembahasan atau diskusi tentang masalah teologi. Diskusi-diskusi yang pada akhirnya dikenal sebagai kalam, telah dilakukan sebelum ilmu kalam mapan sebagai ilmu, dan pembicara yang terlibat didalamnya disebut mutakallimun.

Dari penjelasan yang ada dapat diambil tujuh sebutan mengenai ilmu kalam. Hal ini mengambarkan begitu kuatnya pertentangan antara yang mendukung dan menolak kalam. Sebutan yang biasa dipakai tentang kalam adalah:

  1. Ilm al-fiqh al-akbar digunakan oleh Imam Abu Hanifah abad ke 2H/8M.

  2. Ilm al-kalam dipergunakan oleh Ja’far Alshadiq (wafat 148H/75M), Malik (wafat 179H/795M) dan Syafi’i (wafat 204H/819M).

  3. Ilm ushul al-din digunakan oleh Asy’ari (wafat 324H/935M), Al-Baghdadi (wafat 42H/1037M).

  4. Ilm al-aqaid digunakan oleh Al-Thahawi (wafat 331H/942M) dan Al Gazali (wafat 505H/111M).

  5. Ilm al-nazhar wa al-istidlal digunakan oleh Taftazani didalam buku Syarh Al-Aqa’id Al Nasafiyyah membahas tyentang metode ilmu kalam.

  6. Ilm al-tauhid wa al-shifat digunakan Taftazani untuk membahas pentingnya keesaan dan sifat-sifat Tuhan.

  7. Ilm al-tauhid membahas bagian terpenting dalam Islam dipergunakan oleh Muhammad Abduh (wafat 1323H/1905M).

Perselisihan yang paling hebat di dalam ilmu kalam adalah dalam memperebutkan istilah “ahlussunah wal jamaah” sebagai identitas kelompok. Masing-masing kelompok mengklaim dirinya sebagai kelompok yang menjalankan Islam paling murni dan terselamtkan (al-firqah al-najiyah). Klaim-klaim terhadap al-firqah al-najiyah adalah berkaitan dengan Hadis Rasullulah SAW dibawah ini:

Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan: semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan. Kaum Nasrani terpecah menjadi 72 golongan: semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan. Dan umat Islam ini akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan7

Dalam riwayat lain disampaikan :

Umat ini akan terpecah menjadi 72 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan , yaitu al-jamah.8

Selain perselisihan istilah ahlussunah wal jamaah, terdapat juga pertentangan tentang ilmu kalam sendiri sebagai satu disiplin ilmu. Penolakan terhadap ilmu kalam terjadi dikalangan ulama seperti yang disampaikan oleh imam Malik dengan menyatakan “Aku tak suka kalam kecuali dalam hal yang melibatkan amal (tindakan, perbuatan), tetapi dalam kalam tentang Tuhan , diam adalah lebih baik dari pada bicara”9

B. Perkembangan Ilmu Kalam (Klasik, Modern dan Gerakan Pembaharuan)

1. Kalam Klasik

Awal dari munculnya benih golongan (firqah) di dalam Islam dapat dirunut kembali pada masa Islam awal setelah wafatnya Rasulullah SAW. Peristiwa tersebut dicatat oleh sejarah sebagai peristiwa as saqifah.10Perselisihan di Saqifah Bani Sa’idah adalah perselisihan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dalam memperebutkan pemimpin setelah wafatnya Rasullullah SAW.11 Akhir dari perselisihan ini adalah diangkatnya Abu Bakar sebagai Khalifah. Perselisihan umat berikutnya pada masa Khalifah Ali berkuasa. Terjadi perselisihan yang tajam antar Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan dalam memperebutkan kursi khalifah. Perselisihan diatas awalnya adalah lebih banyak didasari oleh kepentingan politik daripada perselisihan paham dalam agama (kalam)12. Perkembangan dari perselisihan di atas menjadi perselisihan berkaitan dengan nash yang diambil untuk mendukung pendapat masing-masing pihak yang berseteru. Penggunaan nash- nash agama dalam urusan politik membawa imbas kepada pemahaman teologis setiap pendukung.

Perselisihan antara kubu Ali dan Muawiyah menghasilkan reaksi dari masyarakat dan muncullah golongan Khawarij dan Murjiah. Pro dan Kontra terhadap kepentingan politik menghasilkan gerakan kalam yang merupakan reaksi terhadap perseteruan politik antara Ali dan Muawiyah. Perkembangan aliran kalam di dalam Islam berikutnya didasari oleh pemahaman paham keagamaan. Aliran kalam yang muncul berikutnya adalah Jabariah, Qodariyah, Mu’tazilah, Asy’ariah dan Ahlussunah wal Jamaah.

a. Aliran Kalam Berawal dari Paham Politik

1). Khawarij

Ada dua pendapat mengenai awal lahirnya Aliran Khawarij sebagai satu aliran kalam. Pendapat pertama menganggap Khawarij muncul karena dilatar belakangi oleh pertentangan antara Muawiyah dan Ali, yang mengakibatkan pecahnya Perang Shifin pada tahun 37H/657M13 dan gerakan Khawarij dimulai setelah perang. Pendapat kedua melihat Kahwarij muncul lebih awal setelah kematian Khalifah Usman. Pengangkatan Ali sebagai Khalifah tidak sepenuhnya diterima oleh kaum muslimin dan dipicu juga oleh sikap Ali yang tidak mengambil langkah menghukum pembunuh Usman. Sikap penolakan yang pertama ditunjukan oleh Abdullah Ibnu Umar gubernur Syiria Muawiyah membangkang terhadap Ali. Kemudian pecah perang Jamal didekat kota Basrah dimotori oleh janda Rasulullah SAW, Thalhah dan Zubair pada Tahun 65614. Kemudian diikuti oleh perang shiffin karena Ali ingin menghukum Muawiyah karena pembangkangannya.

Perang Shifiin berakhir karena desakan ulama dan diadakan perundingan antara pihak Ali dan Muawiyah. Dalam perundingan terjadi kecurangan yang dilakukan oleh Amr ibnul Ash yang mewakili Muawiyah, terhadap Abu Musa Al Asy’ari yang mewakili Ali. Kejadian ini menghasilkan rasa tidak puas bagi sekelompok muslim. Kelompok yang tidak puas terhadap hasil perundingan meneriakkan kalimat “ laa hukma ill lillah” yang berarti tiada hukum kecuali hukum Allah berdasarkan ayat Al Quran surat 6:57 dan 12:40 dan lainnya.15 Puncak dari pembangkangan kaum khawarij adalah pemisahan diri ke Harura dan Narwan.

Khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar16. Khawarij dalam istilah Ingris dikenal dengan sebutan kharijites yang mewakili bahasa Arab. Montegomery Watt memberikan empat arti untuk kata khawarij:

  1. Khawarij adalah orang yang keluar atau memisahkan diri dari Ali

  2. Mereka adalah orang yang keluar dari kalangan orang yang tidak beriman

  3. Mereka adalah orang yang menentang (khraja ‘ala) Ali atau memberontak terhadap Ali

  4. Mereka adalah orang yang keluar dan mengambil bagian aktif dalam jihad17

2). Syiah

Syiah sebagai aliran firqah harus dipahami dari arti etimologis kata tersebut. Syiah mempunyai makna pengikut atau penolong. Kelompok Syiah lebih dikaitkan dengan kelompok Ali, walaupun dalam konteks politik, syiah bisa juga berarti Syiah Ali dan Syiah Muawiyah. Syiah sebagai aliran paham berangkat dari pernyataan Rasulullah seusai melakukan haji wada dihadapan kaum muslimin di Ghadir Khum:

Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya, Allahumma bantullah orang-orang yang menjadikannya (Ali) sebagai pemimpinnya, dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya.” (Al Hadist)18

Aliran paham syiah berangkat dari diskusi tentang pemahaman kepemimpinan atau imamah setelah wafatnya Rasullulah SAW. Syiah berpandangan bahwa imamah adalah bentuk pemerintahan Tuhan dan penunjukkannnya adalah berdasarkan perintah Tuhan. Seorang Imam adalah seorang pemimpin yang bertanggung jawab menyelenggarakan pemerintahan Islam dan membimbing pikiran dan rohani masyarakat serta memelihara syariat Rasullullah SAW.

3). Murjiah

Murjiah berasal dari kata arjaa yang berarti membuat sesuatu mengambil tempat dibelakang atau memberi pengharapan. Murjiah diberikan kepada kelompok yang menunda penentuan hukum terhadap orang Islam yang berdosa besar kepada Allah dihari perhitungan kelak. Kalam murjiah lebih menekankan pembicaraan pada siapa dari orang Islam yang telah menjadi Kafir atau keluar dari Islam.

Murjiah terbagi dua golongan yaitu moderat dan ekstrem. Golongan moderat berpendapat orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal di dalam neraka, tetapi dihukum sesuai dengan besar dosanya.Tokohnya adalah al Hasan Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abi Thalib, Abu Hanifah dan Abu Yusuf. Abu hanifah memberikan definisi Iman tidak mempunyai sifat bertambah atau berkurang dan tidak ada perbedaan antara manusia dalam hal iman19.

Golongan ekstrim murjiah adalah al-Jamiah pengikut Jahm Ibn Safwan. Golongan ini percaya bahwa orang Islam yang percaya Tuhan dan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan tidak menjadi kufur, karena iman dan kufr tempatnya dalam hati dan bukan bagian dari tubuh manusia. Abu al Hasan Al Salihiu berpendapat Iman adalah mengetahui Tuhan sedangkan kufr adalah tidak tahu Tuhan.

b. Aliran Kalam Berdasarkan Paham Agama

Pembagian Kalam dalam bagian ini dibagi atas dua golongan besar yaitu Suni dan Syiah. Paham yang berkembang kemudian dapat dikelompokan dalam dua golongan besar karena perbedaan konsep imamah diantara dua kelompok ini.

1). Sunni

Jabariah

Jabariah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa. Faham ini memandang bahwa manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Dalam istilah Inggris jabariah disebut fatalism atau pridestination. Perbuatan-perbuatan manusia difahami sebagai sesuatu yang ditentukan oleh kada dan kadar Tuhan. Jabariah terdiri dari dua kelompok jabariah murni dan jabariah moderat.

  1. Jabariah Murni sama sekali tidak memperkenankan kuasa apapun pada perbuatan manusia.

  2. Jabariah moderat mengakui bahwa manusia memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaan ini tidak efektif.

Tokoh yang mempopulerkan jabariah adalah Jahm Ibn Safwan dari Khurasan. Menurut beliau manusia tidak mempunyai kekuasaan untuk berbuat apa-apa, tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri dan pilihan, manusia dalam perbuatannya adalah dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya. Perbuatan-perbuatan itu diciptakan Tuhan dalam diri manusia, oleh karena itu manusia dikatakan berbuat bukan dalam arti sebenarnya tetapi dalam arti kiasan.

Jabariah moderat dibawa oleh Al-Husain Ibn Muhammad Al Najjar. Jabariah Moderat mengartikan perbuatan manusia yang baik dan jahat diciptakan oleh Tuhan, tetapi manusia mempunyai bagian dalam perwujudan perbuatan-perbuatan itu. Paham ini yang dimaksudkan sebagai paham kasb atau acquisition.

Qodariyah

Qodariyah berarti manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan kekuatannya, dalam bahasa Inggris faham ini dikenal dengan free will dan free act . Faham ini dibawa oleh Mabad Al Juhani. Kemudian faham ini disebarkan oleh Ghilan Al Dimasyqi di Damaskus. Ghilan mengajarkan bahwa manusia sendirilah yang melakukan perbuatan baik maupun buruk, dan manusia mempunyai kemauan dan dayanya sendiri. Dalam faham ini perbuatan adalah atas kemauan dan kehendak mansuia sendiri.

Mu’tazilah

Mutazilah berasal dari kata I’tazala yang berarti orang yang memisahkan diri atau orang yang mengasingkan diri. Mutazilah merupakan aliran kalam yang memiliki ciri dan metode tersendiri dalam berakidah. Metode berpikir mereka dipengruhi oleh filsafat Yunani, sehingga aliran ini cenderung menggunakan akal pikiran. Aliran Mutazila dikenal sebagai kelompok yang banyak menta’wilkan ajaran agama, sehingga dapat dikatakan hampir seratus persen menggunakan akal pikiran dalam agama.

Tokoh utama aliran ini adalah Washil bin Atho yang murid dari Hasan Bashri di kota Bashra. Pemisahan diri Washil bin Atho dari Hasan Bashri disebabkan diskusi tentang “apakah pelaku dosa besar itu kafir”. Washil tidak puas dengan hasil diskusi sehingga memisahkan diri dari Hasan Bashri. Menurut Washil jawaban yang benar dari diskusi adalah “dibutuhkan konsep jalan tengah antara kafir dan mukmin”. Washil memperkenalkan konsep manzilal bainal manzilatain.

Pokok-pokok pikiran Mutazilah adalah : tauhid, keadilan Tuhan, Al-Wa’d wal-Wa’id, Manzilal bainal manzilatain, amr ma’ruf nahi munkar.

Asy’ariah

Asy’iriah diperkenalkan oleh Abu al Hasan al Asy’ari sarjana muslim dari kota Basrah di Irak (260-324H/873-935M). Al Asy’ari pada mulanya adalah penganut paham Mu’tazilah dan murid dari al Jubbail. Tidak ada keterangan yang jelas mengapa al Asy’ari pindah dari paham Mu’tazilah. Menurut penuturan dari al Subki dan Ibn ‘Asakir perpindahan itu disebabkan mimpi Asy’ari berjumpa dengan Rasullullah Muhammad SAW dan mendapat penegasan bahwa yang benar adalah ahlul hadist dan yang salah adalah Mu’tazilah.20 Mimpi Asy’ari terjadi pada bulan Ramadhan sebanyak tiga kali yaitu tanggal 10, 20 dan terakhir 30.21 Penyebab lainnya adalah perdebatan al Asy’ari dengan gurunya al Jubbail tentang keadilan Tuhan. Al Asy’ari mengunakan dialektika rasional Mu’tazilah untuk membongkar kelemahan-kelemahan sistem mereka. Berikut ini kutipan perdebatan tentang keadilan Tuhan yang disampikan Asy’ari :

Mari kita bayangkan seorang bocah dan seorang dewasa di surga yang keduanya meninggal dalam iman yang benar. Namun demikian , si dewasa berada di surga yang lebih tinggi daripada si bocah. Si bocah tentu bertanya kepada Tuhan, “Mengapa Engkau berikan tempat yang lebih tinggi kepada orang itu?” Tuhan tentu menjawab, “Ya, karena dia telah melakukan banyak amal saleh.” Kemudian si bocah bertanya, “Mengapa Engkau biarkan aku mati muda sehingga aku tidak mungkin melakukan amal saleh?” Tuhan menjawab, “Aku tahu bahwa jika kamu dewasa maka kamu akan menjadi pendosa, oleh sebab itu, lebih baik bagimu mati muda.” Setelah itu teriakan terdengar dari mereka yang terlaknat di neraka yang paling bawah, “Wahai Tuhan! Mengapa Engkau tak membiarkan kami mati muda sehingga kami tak perlu menjadi pendosa?”22

Pedebatan antara Asy’ari dan al Jubbail tentang keadilan Tuhan adalah ilustrasi dari pengikut Asy’ari untuk memberikan penjelasan perbedaan logika Asy’ariah dan logika Mu’tazilah.23

Di samping Asy’iriah dikenal Maturidiah yang dikembangkan oleh Abu Mansur ibn Mahmud al Maturidi di kota Samarkand (wafat Samarkand 333H /944M). Maturidiah bersama dengan Asy’ariah memperkuat paham ahlul hadis yang kemudian dikenal sebagai Ahlussunah Wal Jamaah. Maturidiah mengembangkan pemahaman Tauhid yang sama dengan Asy’ariah. Perbedaan ada pada pemahaman konsep tantang perilaku manusia, Matutidiah memberikan banyak kebebasan pada paham kasb yang dikembangkan Asy’ariah. Maturidiah dekat kepada paham Qadriyah dalam memandang kebebasan manusia.

Ahlussunah wal Jamaah

Ahlussunah Wal Jamaah selanjutnya kita sebut Ahlussunah adalah berawal dari kalam Asy’ariah dan Maturidiah. Asy’ariah adalah penerus dari era Ahlul Hadist pada masa awal Islam. Penegasan tentang Asy’ariah sebagai kaum ahlussunah disampaikan Asy Syak’ah dalam bukunya Islam tidak bermahzab. Asy Sayk’ah memasukkan para sahabat dan tabiin kepada kelompok Ahlussunah.24

Pengertian Ahlussunah Wal Jamaah secara etimologis harus dilihat dari dua kata yaitu as Sunnah dan al Jamaah. As Sunah menurut bahasa Arab adalah ath-thariqah yang berarti metode, kebiasaan,perjalanan hidup atau perilaku baik terpuji maupun tercela. As Sunnah berasal dari as-sunan yang bersinonim dengan ath-thariq berarti jalan. Al Jama’ah berasal dari al ijtima berarti berkumpul atau bersatu lawan katanya al-firqah berpecah belah.25 Berikut ini arti Ahlussunan Wal Jamaah menurut beberapa ahli kalam :

Muhammad Abdul Hadi Al Mishri

Ahlussunah Wal Jamaah adalah umat pendahulu umat sekarang yaitu para sahabat dan para tabi’in yang mengikuti Kitabullah dan Sunah Rasul SAW. 26

Nashir Ibn Abdul Karim Al’Aql

Ahlussunah Wal Jamaah adalah orang-orang yang mengamalkan apa-apa yang telah diamalkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.27

Siradjuddin Abbas

Ahlussunah Wal Jamaah adalah kaum yang menganut i’tiqad nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya. I’tiqad nabi dan sahabat-sahabatnya telah termaktub dalam Al Quran dan dalam sunnah Rasul terpencar-pencar dirumuskan dan disatukan oleh Abu al Hasan al Asy’ari. Karenanya seringkali Ahlussunah Wal Jamah disebut sama dengan Asy’ariah.28

Salafiyah dan Wahabiah

Salafiyah dan Wahabiah adalah pemahaman tidak terpisahkan karena inti dari pemahaman yang sangat dekat. Salaf adalah bermakna siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dari karib kerabat dekat mereka itu di atasmu dalam usia dan paham. Ibn Tamiyah membagi kaum salaf dala tiga generasi.

  1. Generasi para sahabat Nabi sebagai genearsi pertama Islam

  2. Para Para Tabiun (pengikut sahabat Nabi generasi kedua)

  3. Tabiu al tabiin (pengikut sahabat Nabi generasi ketiga)

Penganut jalan salaf disebut sebagai kaum salafiyah atau juga dikenal dengan sebutan ahlussunah wal jamaah karena mereka berpegang teguh pada Al Quran Dan Sunnah Rasullulah SAW sebagai “al firqatun najiyyah”. Semangat salafi kemudian membangkitakan gerakan yang dikenal dengan gerakan wahabi. Gerakan Wahabi diambil dari nama tokoh penganjur gerakan ini yaitu Muhammad Ibn Abdul Wahhab (1703-1792). Tokoh-tokoh salafi dan wahabiah adalah:

  1. Ibn Taymiyah (1263-1328) lahir di Harran daerah Turki dari keluarga yang berpendidikan tinggi. Ayahnya adalah pengajara di Universitas Masjid Jami bani Umayyah. Ibn Taymiyah mencurahkan tenaga dan pikirannya memerangi paham yang dalam pandangannya menyimpang dari akidah agama.

  2. Muhammad ibn Abdul Wahhab (1703-1792) adalah anak seorang hakin di Unaynah Arab Tenggara. Muhhammad Ibn Abdul Wahhab sangat prihatin dengan warga kota kelahiran yang sangat miskin dan buruk dalam menjalankan syariat Islam. Akibat kemiskinan mengakibatkan masyarakat percaya pada takhyul dan bidah-bidah dan mitos-mitos tentang keagamaan. Keterbelakangan dan percaya pada takhyul, hal ini diperangi oleh Abdul Wahhab muda yang dianggap sebagai penyimpangan dalam agama.

2). Syiah

Imamiyyah

Syiah Imamiyyah berpandangan bahwa pemerintahan di dunia adalah pemerintahan Tuhan. Kenabian adalah pendirian risalah Tuhan, sedangkan imamah adalah penjaga risalah. Konsep imamah berasal dari hadis Rasulullah:

Barang siapa yang mati tanpa mengetahui siapa iman zamannya, ia mati sebagai seorang musyrik”, dan akan dibangkitkan disampingkan orang yang murtad dan kafir pada hari kebangkitan (al hadist)

Mahzab syiah dikenal juga dengan sebutan mahzab Jabariah atau mahzab Ahlul Bait. Pokok-pokok ajaran syiah imamiyah adalah: penegakkan Imamah, At Taqiyah (menyembunyikan pendapat didepan penguasa), Al Ishmat setiap Imam suci (mashum), Al-Istitar, Nikah Mut’ah, Ar Rajah (dibangkitkan sekelompok manusia sebelum hari kiamat.)

Dua belas Imam Syiah Imamah:

  1. Imam Ali Bin Abu tahalib

  2. Imam Hasan Al Mujtaba Ibn Ali

  3. Imam Husain Sayyid Al Syuhada Ibn Ali

  4. Imam Ali Ibn Husain Zain al abidin

  5. Imam Muhammad Al baqir

  6. Imam Jafar Ibn Muhammad as Shadiq

  7. Imam Musa Ibn Jafar Al Kazim

  8. Imam Ali Ibn Musa Ar Ridlo

  9. Imam Muhammad Jawwad Ibn Ali at Taqi

  10. Imam Ali Ibn Muhammad Naqi Al Hadi

  11. Imam Hasan Ibn Ali al Askari

  12. Imam Muhammad al Mahdi Al Muntazhar

Zaidiyah

Syiah Zaidiyah berasal dari nama tokoh pendirinya Zaid Bin Ali (w 740M). Setelah meniggalnya Imam Muhammad al Baqir syiah imamah tepecah dua dibawah pimpinan Ja’far As Shadig dan Zaid bin Ali. Syiah dibawah pimpinan Jafar as Shadiq dikenal dengan sebutan Syiah aliran enam imam dan pengikut Zaid disebut Zaidiyah.

Menurut keyakinan Zaidiyah, imamah bukanlah karena ketetapan nash, tetapi siapapun diperbolehkan menjadi pemimpin asalkan memenuhi persyaratan. Faham ini memberi makna imamah bukan berdasarkan warisan tetapi berdasarkan bai’at. Aliran Zaidiyah sangat dekat dengan mutazilah, karena Zaid murid dari Washil bin Atho pendiri mutazilah. Kecenderungan kedekatan zaidiyah dan mutazilah adalah dalam permasalahan zat Allah, jabar dan ikhtiar. Perbedaan aliran zaidiyah dan syiah lainnya tidak hanya dalam pemahaman imamah saja, tetapi dalam:

  1. tidak menganut ajaran tentang at-Taqiyat, yaitu keharusan menyembunyikan pendirian di depan lawan

  2. tidak menganut ajaran al-ishmat, yaitu setiap al-Imam itu suci dari setiap kesalahan dan setiap dosa apapun

  3. tidak menganut ajaran tentang al-istitar, yaitu bahwa al-Imam di dalam keadaan kekuatan tempur (perang) masih lemah mestilah merahasiakan identitas diri.

  4. tidak mengutuk dan tidak mengakui terhadap kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Ismailiyah

Syi’ah Ismailiyah dikaikan dengan Ismail bin Jafar Ash Shadiq. Faham ismailiyah muncul karena Jafar Ash Sadiq mengalihkan imamah dari tangan Ismail kepada Musa Al- Kadim. Menurut beberapa riwayat pengalihan itu terjadi karena Ismail adalah pemabuk berat. Peristiwa ini berakibat munculnya aliran Syi’ah Ismailiyah.

Aliran Ismailiyah menjadi gerakan ekstrim dibawah pimpinan Abdullah bin Maimun dari kota Salamiyah. Abdullah bin Maimun mengajarkan bahwa jabatan imam tidak pernah putus, tetapi berkelanjutan sampai akhir jaman, dan jabatannya disebut imam al-zaman. Imam al-zaman ada pada setiap masa dan tidak pernah diumumkan, paham ini dikenal dengan sebutan imam al-mastur.

Ciri utama gerakan ismailiyah adalah percaya pada keesaan Tuhan, kerasulan Muhammad dan Al-Qur’an. Ismailiyah juga percaya pada doktrin imamat, sebab tanpa imam tidak ada bimbingan sama sekali.

2. Kalam Modern

Aliran kalam Modern didasari oleh ijtihad perorang dari pemikir Kalam Islam. Paham Kalam klasik adalah merupakan ijtihad kelompok atau paham yang dimotori oleh satu kelompok. Aliran kalam klasik berangkat dari identitas kelompok yang dibangun bersama oleh kelompok pendukungnya. Kalam modern lebih mengikuti ijtihad seorang tokoh dan dianggap baik oleh sekelompok orang dan di dukung sebagai satu aliran Kalam.

Jamaluddin Al Afghani

Jamaluddin Al Afgani adalah pemimpin pembaharuan Islam yang aktivitasnya berpindah dari satu negara ke negara lain. Jamaluddin lahir di Afghanistan pada th 1839 dan meninggal di Istambul pada tahun 1897. Pada tahun1869 Jamaluddin pindah ke India, kemudian tahun 1871 pindah ke Mesir. Pada akhirnya beliau tinggal di Istambul dan meninggal tahun 1897.

Al Afghani berusaha menjembatani kesenjangan antara kaum modernis sekuler dan kaum tradisionalis agama. Afghani menolak kepasifan, fatalisme dan menjauhi dunia seperti dalam paham sufi dan juga kecenderungan sekuler Barat yang membatasi agama hanya pada kehidupan pribadi dan ibadah saja. Menurut Al Afghani Islam harus dibangun dengan aktif dan berpijak pada dunia. Konsep Afghani untuk membangun Islam didasarkan pada :

  1. Islam adalah pandangan hidup yang lengkap.

  2. Muslim sejati berjuang untuk mewujudkan kehendak Tuhan dalam sejarah.

Muhammad Abduh

Muhammad Abduh lahir di Mesir pada tahun 1849 dan meninggal pada tahun 1905. Muhammad Abduh belajar Islam di universitas Al-Azhar, dan menyelesaikan studi pada tahun 1866. Muhammad Abduh belajar Filsafat dengan Al Afgani pada tahun 1871. Pada peristiwa revolusi Urabi Pasya tahun 1882 Muhammad Abduh ditangkap dan diasingkan ke Beirut kemudian ke Paris.

Pada tahun 1888 Muhammad Abduh diijinkan kembali ke Mesir tetapi tidak diijinkan mengajar. Pada tahun 1894 Abduh diangkat sebagai anggota Majlis A’la dari Universitas Al Azhar. Pada masa ini Muhammad Abduh membawa perbaikan pada Al Azhar. Muhammad Abduh diangkat sebagai Mufti Mesir pada tahun 1899 sampai meninggal pada tahun 1905.

Muhammad Abduh mengkritik sikap jumud umat Islam pada masanya yang membawa kemunduran bagi umat. Kata jumud mengandung arti membeku dan tidak bergerak. Paham jumud yang menjadikan umat Islam tidak mau menerima perubahan dan berpegang teguh pada tradisi.

Rasyid Ridha

Rasyid Rida lahir tahun 1865 di kota Al Qalamun di Libanon. Rasyid Ridha adalah keturunan Al Huasin cucu Rasulullah SAW, karena itu ia sering memakai gelar Al Sayid dan merupakan murid dari Muhammad Abduh. Rasyid Ridha memulai ide pembarharuan sejak di Siria dan kemudian pindah ke Mesir agar lebih dekat dengan gurunya Abduh. Di Mesir Rasyid Ridha menerbitkan majalah Al Manar. Al Manar bertujuan mengadakan pembaharuan dalam bidang agama, sosial dan ekonomi. Rasyid Ridha juga meulis tafsir Al Quran dengan nama Al Manar.

Ide-ide pembaharuan yang dimajukan oleh Rasyid Ridha banyak mempunyai persamaan dengan Muhammad Abduh. Tetapi dalam beberapa hal Muhammad Abduh lebih liberal dibandingkan dengan Rasyid Ridha. Perbedaan ini disebabkan oleh latar belakang penguasaan bahasa, Muhammad abduh pernah tinggal di Paris dan banyak membaca buku-buku Barat. Paham teologi Muhammad Abduh lebih liberal dalam bidang anthropomorphisme dan tajassum.

Ahmadiyah

Gerakan Ahmadiyah di dirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835-1905). Kegiatan awal Ghulam Ahmad adalah menulis di Jurnal Manshur Muhammadi di kota Banglore India Selatan. Baiat pertama umat Ahmadiyah dilakukan Ghulam Ahmad di Ludhina pada tanggal 23 Maret 1889. Setelah Ghulam Ahmad meninggal gerakan Ahmadiyah terbagi dua: Ahmadiyah Qadiani dan Ahmadiyah Lahore.

Ahmadiyah Qadiani dinamakan Jamiah al Ahmadiyah yang menegakkan doktrin pokok memandang Ghulam Ahmad sebagai Nabi. Ahmadiyah Lahore atau disebut juga Anjuman-I Isya’at Islam golongan ini tidak mengangap Ghulam Ahmad sebagai Nabi tetapi sebagai seorang mujaddid. Kedua golongan Ahmadiyah ini mengangap Ghulam Ahmad sebagai Isa Al Masih dan Imam Mahdi.

C. Permasalahan Dalam Ilmu Kalam

Iman dan Khufr

Iman dan khufr adalah konsep dalam Islam yang berlawanan satu sama lainnya. Iman dan khufr adalah atribut dalam diri seorang muslim.Setiap aliran kalam mempunyai pandangan yang berbeda tentang iman dan khufr. Kaumkhawarij terkenal dengan konsep kufr dan takfirinya.

Iman berasal dari kata dari kata amn dan aman yang berarti rasa aman, percaya dan beriman. Kata ini dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai secure dan faith.Iman dalam bentuk umumnya adalah bentuk keyakinan atau kepercayaan akan Tuhan dan unsur-unsurNya. Iman adalah juga proses mencapai ma’rifat dari pengetahuan Tuhan dan RasulNya. Percaya dalam konsep Iman adalah juga membenarkan (tasdiq) dan juga mengikrarkan (iqrar).

Kufr adalah lawan dari iman, penjelasan mengenai iman akan selalu berlawanan dengan kufr. Kufr berasal dari kata kafara yang artinya menutupi atau menyembunyikan. Sebagai contoh kalimat kafara bi ni’matullah yang berarti mengingkari nikmat Allah. Kufr sering diartikan sebagai bentuk tidak bersyukur atau tidak berterima kasih kepada Tuhan. Secara umum kata kufr mengandung arti yang negatif yang berkaitan dengan kesombongan. Konsep kufr juga berkaitan erat dengan konsep takfirin. Takfirin adalah konsep menuduh kelompok lain kufr.

Akal dan Wahyu

Ilmu kalam membahas soal ke-Tuhanan dan kewajiban manusia menggunakan akal dan wahyu untuk mendapatkan penjelasan terhadap dua hal tersebut. Akal sebagai daya pikir berusaha keras untuk sampai kepada diri Tuhan. Wahyu yang merupakan kabar dari alam metafisika kepada manusia membawa keterangan tentang Tuhan dan kewajiban manusia terhadap Tuhan.

Dalam pandangan mutazilah pengetahuan dapat diperoleh melalui akal, dan kewajiban kepada Tuhan dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam. Kewajiban berterima kasih kepada Tuhan sebelum turun wahyu adalah wajib. Baik dan jahat dapat diketahui melalui akal, demikian juga melalui akal diketahui untuk menjauhi yang jahat. Mutazilah berpendapat bahwa kewajiban mengetahui dan berterima kasih kepada Tuhan, mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk adalah melalui akal.

Asy’ariah menolak sebagian besar pendapat mutazilah di atas. Kewajiban-kewajiban manusia kepada Tuhan hanya dapat diketahui melalui wahyu. Akal tidak dapat membuat sesuatu menjadi wajib, dan menjauhi yang buruk adalah wajib. Akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi wahyulah yang mewajibkan manusia mengetahui, berterima kasih kepada Tuhan. Melalui wahyu manusia mengetahui bahwa patuh kepada Tuhan akan memperoleh ganjaran dan sebaliknya akan mendapatkan hukuman. Al-Bagdadi menegaskan bahwa akal dapat mengetahui Tuhan tetapi tidak dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan. Hanya wahyu yang menerangkan tentang kewajiban berterima kasih kepada Tuhan.

Perbuatan buruk dan baik hanya dapat diketahui dengan perantaraan wahyu. Al-Ghazali menerangkan bahwa suatu perbuatan disebut baik kalau perbuatan itu sesuai dengan maksud pembuat. Perbuatan jahat apabila tidak sesuai dengan tujuan pembuat. Perbuatan baik dalam arti sebenarnya bagi al-Ghazali ialah perbuatan yang sesuai dengan tujuan di masa depan yaitu akhirat. Untuk mengetahui tujuan masa depan atau akhirat hanya dapat diketahui melalui wahyu.

Tauhid

Tauhid adalah kata kerja aktif yang merupakan derivasi atau tashrif dari kata wahid yang artinya satu atau esa. Secara harafiah arti tauhid ialah menyatukan atau mengesakan. Ilmu kalam mengartikan tauhid sebagai paham memahaesakan Tuhan atau sebuah paham ke Tuhanan Yang Maha Esa. 29

Tauhid secara tepat adalah penggambaran inti ajaran semua nabi dan rasul Tuhan, yang telah diutus untuk stiap kelompok manusia di bumi sampai hadirnya nabi Muhammad SAW. Tauhid adalah sebuah rangkaian pemahaman ke Tuhanan Yang Maha Esa yang berkaitan erat dengan hakikat dn martabat manusia. Paham tauhid yang benar menghasilkan pandangan yang jelas tentang harkat dan martabat manusia.

Tauhid tidak cukup dengan hanya percaya kepada Tuhan saja, tetapi mencakup pula pengertian yang benar tentang Tuhan yang dipercayai dan sikap kepada Nya serta objek-objek lain selain Tuhan30.

Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan

Asy’ariah mempercayai kemutlakan kekuasaan Tuhan. Tuhan tidak tunduk kepada siapapun, di atas Tuhan tidak ada satu zat lain yang dapat membuat hukuman. Tuhan bersifat absolut dalam kehendak dan kekuasaannya31. Tuhan adalah maha pemilik yang bersifat absolut dan berbuat apa saja yang dikehendakinya dan tidak seorang pun dapat mencela perbuatan Nya. Walaupun perbuatan-perbuatan itu dipandang dari akal manusia bersifat tidak baik dan tidak adil.

Mutazilah berpendapat bahwa kekuasaan Tuhan tidak bersifat mutlak. Kekuasaan mutlak Tuhan telah dibatasi oleh kebebasan yang diberikan Tuhan kepada manusia, dalam menentukan kemauan dan perbuatan32. Kekuasaan mutlak Tuhan dibatasi juga oleh sifat adil Tuhan. Tuhan tidak bisa lagi berbuat sekehendak Nya karena terikat oleh norma keadilan. Apabila dilanggar Tuhan bersifat tidak adil dan zalim. Mutazilah berpendapat kekuasaan mutlak Tuhan dibatasi oleh hukum alam yang tidak pernah mengalami perubahan.

D. Ilmu Kalam dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Pemikiran dalam Islam

Ilmu kalam sebagai suatu disiplin ilmu keagamaan akan memberikan pengaruh terhadap pemikiran lainnya. Pemikiran kalam akan mempengaruhi konsep hubungan sosial motivasi sosial dan etika bernegara. Kalam Asyariah yang berkembang dengan baik di Indonesia dapat ditelaah untuk mengetahui sampai dimana pengaruhnya pada konsep kehidupan dan pemikiran Islam.

Kalam Asy’ariah tidak terlepas dari sisi lemah dan kuat yang menjadi kritikan dari aliran kalam lainnya. Ibn Taimiyah mengkritik keras konsep kasb untuk perbuatan manusia sebagai satu konsep yang sulit dimengerti dan tidak masuk akal. Kritik terhadap al Ghazali yang merupakan pemikir paling besar dalam tradisi Asy’ariah juga banyak disampaikan. Al Gazhali menyerang para pemikir Islam yang mengunakan filsafat dalam metode berpikirnya. Karya Al Ghazali yang terkenal adalah al tahafut al falasifah 33yang mengkritik pengunaan filsafat sebagai metoda berpikir. Pengaruh serangan Ghazali terhadap filsafat menyebabkan umat Islam meninggalkan filsafat dalam proses pengambilan keputusan.

Kalam Asy’ariah akan sangat kuat pada masyarakat yang berpikir dan memilih cara hidup yang sederhana. Kalam Asy’ariah mengalami permasalahan ketika menghadapi ilmu pengetahuan dan penemuan baru dalam masyarakat yang berpikir rasional. Pada tulisan ini kita coba cermati pandangan Zainun Kamal mengenai kekuatan dan kelemahan Kalam Asy’ariah.34

Kekuatan Asy’ariah

  1. Kalam Asy’ariah dibangun di atas konsep akal manusia yang lemah menjadi sumber kekuatan dari kalam Asy’ariah. Kalam Asy’ariah mudah dipahami oleh umat Islam yang sederhana dalam pemikiran

  2. Kalam Asy’ariah dari sejak berdiri berpihak pada golongan awam yang menjadi mayoritas kaum Sunni yang tidak setuju dengan aliran Mu’tazilah

  3. Kalam Asy’ariah berhasil mendapatkan pengikut didukung oleh khalifah al Mutawakkil dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh berikutnya seperti: al Baqilani, al Juwaini dan al Gazali

  4. Kalam Asy’ariah selalu akomodatif dengan kelompok penguasa, akibat logis dari pemahaman manusia yang lemah dihadapan penguasa.

Kelemahan Asy’ariah

  1. Kalam Asy’ariah memberikan dampak negatif pada dunia Islam karena hilangnya kesadaran pemikiran rasional akibat dari konsep akal manusia yang lemah

  2. Pengkikut Kalam Asy’ariah terikat dengan dogma-dogma dalam memahami nash-nash suci dan sukar mengikuti dan mentolerir perubahan yang terjadi

  3. Fatalisme berkembang didalam masyarakat seperti rezeki, jodoh dan maut adalah ditangan Tuhan menjadikan masyarakat enggan merubah nasibnya sendiri

E. Kesimpulan

Perselisihan yang paling hebat di dalam ilmu kalam adalah dalam memperebutkan istilah “ahlussunah wal jamaah” sebagai identitas kelompok. Masing-masing kelompok mengklaim dirinya sebagai kelompok yang menjalankan Islam paling murni dan terselamatkan (al-firqah al-najiyah). Klaim-klaim terhadap al-firqah al-najiyah adalah berkaitan dengan Hadis Rasullulah SAW dibawah ini:

Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan: semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan. Kaum Nasrani terpecah menjadi 72 golongan: semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan. Dan umat Islam ini akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan

Dalam riwayat lain disampaikan :

Umat ini akan terpecah menjadi 72 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan , yaitu al-jamah.

Selain perselisihan istilah ahlussunah wal jamaah terdapat juga pertentangan tentang ilmu kalam sendiri sebagai satu disiplin ilmu. Penolakan terhadap ilmu kalam terjadi dikalangan ulama seperti yang disampaikan oleh imam Malik dengan menyatakan “Aku tak suka kalam kecuali dalam hal yang melibatkan amal (tindakan, perbuatan), tetapi dalam kalam tentang Tuhan , diam adalah lebih baik dari pada bicara”

Ilmu Kalam adalah ilmu yang pokok bahasannya adalah seputar Allah dan Rasul. Arti Kalam sendiri secara etimology adalah perkataan, pembicaraan, atau kata-kata contohnya yatakallam fi yang berarti membicarakan atau mendiskusikan suatu masalah atau topik. Kalam sering juga disamakan dengan Teology dalam Bahasa Inggris. Al Syahrastani dalam bukunya Al Milal wa Al Nihal memberikan istilah ushul untuk pembicaraan tentang persoalan keesaan Allah. Ushul adalah ilmu yang membahas pengetahuan tentang Allah dalam ke-esaan-Nya, dan pengetahuan tentang para nabi beserta tanda dan bukti kenabiannya.

Ilmu kalam sebagai suatu disiplin ilmu keagamaan akan memberikan pengaruh terhadap pemikiran lainnya. Pemikiran kalam akan mempengaruhi konsep hubungan sosial, motivasi sosial dan etika bernegara. Kalam Asyariah yang berkembang dengan baik di Indonesia dapat ditelaah untuk mengetahui sampai dimana pengaruhnya pada konsep kehidupan dan pemikiran Islam. Kalam Asyariah akan sangat kuat pada masyarakat yang berpikir dan memilih cara hidup yang sederhana. Kalam Asyariah mengalami permasalahan ketika menghadapi ilmu pengetahuan dan penemuan baru dalam masyarakat yang berpikir rasional.

Daftar Pustaka

Abbas, Suradjuddin. I’tiqad Ahlussunah Wal Wamaah. Jakarta:Pustaka Tarbiyah,2005

Abu Zaid, Nasr Hamid. Kritik Wacana Agama. Yogyakarta: LKIS, 2003.

Al’Aql, Nashir Ibn Abdul Karim. Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Jakarta: Gema Insani Press, 992.

Abdul Khaliq, Abdur Rahman. Kaum Salaf dan Empa Imam. Jakarta: Gema Insani

Press,1992.

Al-Syahrastani. Al-Milala wa Al-Nihal: Aliran-Aliran Teologi dalam Islam. Bandung: Mizan, 2004.

Asy Syak’ah, Mustofa Muhammad. Islam Tidak Bermazab. Jakarta: Gema Inzani Press, 1994.

Al Mishri, Muhammad Abdul Hadi. Manhaj dan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah:

Menurut Pemahaman Ulama Salaf. Jakarta: Gema Insani Press, 1994.

Esposito, John L. Islam Warna-Warni: Ragam Ekspresi Menuju Jalan Lurus.

Jakarta: Paramadina, 2004.

Fakhry, Majid. A History of Islamic Philosophy. Second edition. New York: Columbia University Press, 1983.

Hanafi, Hassan. Dari Akidah ke Revolusi: Sikap Kita Terhadap Tradisi Lama.

Jakarta: Paramadina, 2003.

Hashem, O. Saqifah: Suksesi Sepeninggal Rasulullah SAW Awal Perselisihan Umat. Depok, YAPI, 1989.

Ilhamudin. Pemikiran Kalam Al-Baqillani. Yogyakarta: Tiara Wacana,1997.

Madjid, Nurcholis. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, 2005.

Muthahhari, Murtadha. Pengantar Ilmu-Ilmu Islam. Jakarta: Pustaka Zahra,2003.

Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

______________. Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan.

Jakarta: UI Press, 2002.

Nars, Seyyed Hossein dan Oliver Leaman. History of Islamic Philosophy. Part One.

Qum: Ansyariiyan Publications, 2001.

Watt, W. Montgomery. Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis.

Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990.

______________. Fundamentalisme dan Modernitas dalam Islam. Bandung: Pustaka

Setia, 2003.

______________. Studi Islam Klasik: Wacana Kritik Sejarah.Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999.

1 Hasan Hanafi “Dari Akidah ke Revolusi Sikap Kita Terhadap Tradisi Lama” (Jakarta: Paramadina, 2003) halaman 2

2 Seyyed Hossein Nasr, “Ensiklopedi Tematis Fisafat Islam Seri 1” (Bandung:Mizan, 2003) halaman 85

3 Al Syahrastani “ Al Milal wa Al Nihal, Aliran-aliran danTeologi dalam Islam” (Bandung: Mizan,2004) halaman 79

4 Ilhamuddin “Pemikiran Kalam Al-Baqilani: studi tentang persamaan dan Perbedaannya dengan Al-Asy’ari” (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1997) halaman 2

5 Ibid, halaman 2-3

6 Seyyed Hossein Nasr, op. cit halaman 86

7 Muhammad Abdul Hadi Al Mishri “Manhaj dan Aqidah Ahlussunah Wal Jamaah, Menurut Pemahaman Ulama Salaf” (Jakarta: GIP, 1994) halaman 11

8 Ibid., halaman 10

9 Seyyed Hossein Nasr, op. cit halaman 85-86

10 Informasi tentang peristiwa saqifah ditulis oleh O. Hahem dalam bukunya Saqifah.

11 Mustofa Muhammad Asy Syak’ah “ Islam Tidak Bermazhab” (Jakarta: GIP, 1994) halaman 99

12 Ibid., halaman 135

13 Ibid 103

14 W. Montgomery Watt “Studi Islam Kalsik Wacana Kritik Sejarah terjemahan dari The Formative Period of Islamic Though” (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999) halaman 13

15 Ibid.,halaman 15

16 Harun Nasution “Teologi Islam” (Jakarta: UI Press, 2002) halaman 13

17 W. Montgomery Watt op.cit., halaman 17

18 Mustofa Muhammad Asy Syak’ah, op.cit., halaman 134

19 Harun Nasution, op. cit., halaman 26

20 Ibid, halaman 66

21 Zainun Kamal “Kekluatan dan Kelemahan Paham Asy’ari sebagai Doktrin Akidah” (E-text Artikel Yayasan Paramadina-ISNET)

22 John L. Espositto “Islam Warna-Warni, Ragam Ekspresi Menuju jalan Lurus” (Jakarta:Paramadina’2004) halaman 91-92

23 Zainun Kamal, Loc. cit.

24 Mustofa Muhhammad Asy Syakah, Op. cit,. halaman 385

25 Muhammad Abdul Hadi Al Mishri “Manhaj dan Aqidah Ahlussunah Wal Jamaah” (Jakarta:GIP, 1994) halaman 67-69

26 Ibid., halaman 69

27 Nashr Ibn Abdul Karim Al ‘Aql “Prinsip-prinsip Aqidah Ahlussunah Wal Jama’ah” (Jakarat:GIP,1992) halaman 9

28 Suradjuddin Abbas “ I’tiqad Ahlussunah Wal Wamaah” (Jakarta:Pustaka Tarbiyah,2005) halaman 2-3

29 Nurcholish Madjid “ Dislam Doktrin dan Peradaban” (Jakarta: Paramadina, 2005) halaman 73

30 Ibid., halaman 75

31 Harun Nasution. op. cit., halaman 118

32 Ibid., halaman 119

33 Majid Fakhry (New York: Columbia University Press, 1983) halaman 233

34 Zainun Kamal, Loc. cit.

About these ads

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: